ArticleManagerial  Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya (Bagian VII)
Friday, January 3, 2014
Managerial
Seri Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya
Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya (Bagian VII)
by: Muhamad Al Gamal, SE, MA, Ak
Foto Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya (Bagian VII)

5. Audit

Audit merupakan salah satu alat bagi manajemen dan pemilik dalam melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap organisasi. Audit membantu manajemen dan pemilik meyakini bahwa seluruh organisasi beserta komponennya telah berjalan sebagaimana mestinya dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, jika komponen organisasi ada yang menyimpang dari yang semestinya atau mengalami "masalah", maka "masalah" tersebut seharusnya dapat terungkap melalui aktivitas audit. Lebih daripada itu, audit seharusnya juga menghasilkan saran atau rekomendasi mengenai solusi untuk suatu masalah. Secara umum, audit merupakan langkah-langkah sistematis untuk memeriksa dan membandingkan objek audit dengan seperangkat kriteria atau standar yang telah ditetapkan. Objek audit dapat berupa orang, organisasi, sistem, proses, perusahaan, proyek atau produk.

Dalam perusahaan besar dan modern yang sistem pelaporannya sudah memadai, laporan manajemen yang menyajikan informasi kinerja perusahaan merupakan langkah awal untuk mengetahui berbagai gejala permasalahan yang sedang dialami maupun potensi masalah yang mungkin terjadi. Syaratnya adalah laporan tersebut menyajikan informasi yang benar, lengkap dan dapat dipercaya. Untuk itu, organisasi perlu mengevaluasi sejauh mana kebenaran, kelengkapan dan kebenaran informasi yang disajikan. Agar hasil evaluasi lebih dapat dipercaya, maka sebaiknya dilakukan oleh pihak yang tidak berkepentingan langsung dengan laporan manajemen tersebut atau bersifat independen terhadap pihak yang memberikan laporan. Kegiatan evaluasi ini adalah salah satu bentuk dari audit.
Keberadaan suatu informasi yang dapat dipercaya berkaitan erat dengan sejauh mana informasi tersebut dapat diyakini kebenarannya. Pengertian "benar" yang melekat pada suatu informasi ditentukan oleh seperangkat kriteria atau standar yang telah ditentukan atau disepakati oleh pihak yang berkepentingan, atau oleh regulator tertentu. Informasi yang berbeda akan menggunakan kriteria yang berbeda dalam mengevaluasi kebenarannya. Misalnya: untuk menilai kebenaran informasi mengenai kinerja operasional perusahaan, dapat menggunakan seperangkat kriteria yang telah ditetapkan oleh menajemen puncak. Untuk menilai kebenaran informasi perpajakan yang disajikan oleh Pembayar Pajak, menggunakan ketentuan perpajakan sebagai kriteria penilaian.

Ketika auditor melakukan audit terhadap objek audit, prioritas perhatian perlu diarahkan terhadap objek atau area audit berdasarkan signifikansi dampak yang ditimbulkannya atau berdasarkan area yang terkena dampak masalah terbesar. Pendekatan seperti ini dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi audit, karena auditor dan sumberdaya audit akan lebih fokus pada area-area yang bermasalah besar. Dalam hal ini, manajemen resiko akan membantu auditor mengidentifikasi, mengelompokan dan merangking resiko atau masalah yang terdapat pada objek-objek audit. Sejalan dengan itu, auditor juga akan lebih mudah untuk mengevaluasi kecukupan pengendalian internal yang terkait dengan resiko tersebut. Pendekatan audit ini dikenal dengan audit berbasis resiko.

Dari sisi pelaksana audit atau auditor, audit dapat dilakukan oleh pihak internal organisasi atau audit internal dan yang dilaksanakan oleh pihak eksternal atau audit eksternal. Fungsi pengawasan dan pengendalian di dalam suatu organisasi menjadi dasar bagi para auditor internal dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Di sisi lain, para auditor eksternal berperan menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian bagi pihak-pihak di luar organisasi, misalnya para investor, kreditur dan pemerintah. Mereka bertugas mengevaluasi kondisi internal organisasi atau informasi yang merepresentasikan kondisi tersebut bagi pihak-pihak eksternal dengan menggunakan seperangkat kriteria tertentu.

Meskipun aktifitas audit secara umum dapat ditinjau dari dua perspektif, internal dan eksternal, keduanya saling berkaitan dalam menjamin pencapaian tujuan organisasi seoptimal mungkin. Pengawasan dan pengendalian yang efektif di dalam organisasi akan meningkatkan kualitas informasi yang disajikan bagi pihak eksternal, begitu juga sebaliknya, pengawasan dan pengendalian yang efektif dari pihak eksternal dapat mendorong fungsi pengawasan dan pengendalian internal menjadi lebih efektif.

Apapun bentuknya, paling tidak ada tiga pihak yang terlibat dalam suatu aktifitas audit, yaitu:

  1. Pihak pertama: auditor, misalnya Akuntan Publik atau satuan audit internal
  2. Pihak kedua: entitas yang diaudit (auditee), misalnya manajemen atau unit tertentu dalam suatu organisasi
  3. Pihak ketiga: entitas yang memerlukan pertanggungjawaban dari entitas yang diaudit, misalnya pemegang saham atau manajemen puncak

Pola hubungan kerja yang terjadi antara ketiga pihak tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

GAMBAR

Profil Penulis

Banner training Managerial
Artikel lainnya
Artikel Terkait
Foto Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya (Bagian VI)
Friday, December 27, 2013
Seri Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya
Foto Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya (Bagian V)
Friday, December 20, 2013
Seri Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya
Foto Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya (Bagian IV)
Friday, December 13, 2013
Seri Masalah Bisnis dan Kerangka Penanganannya
Chat via WhatsApp